Media Sosial Membuat Kita Lebih Terhubung, atau Lebih Sering Membandingkan?
Pernahkah kamu membuka media sosial untuk sekadar melihat unggahan teman, tetapi beberapa menit kemudian justru berpikir, “Kenapa hidupku tidak seperti mereka?” Di satu sisi, media sosial membuat kita lebih mudah terhubung. Kita dapat berkomunikasi dengan orang yang jauh, menemukan komunitas, dan memperoleh dukungan sosial. Namun di sisi lain, media sosial juga membuat kita semakin sering melihat kehidupan orang lain dan tanpa sadar membandingkannya dengan kehidupan sendiri.
Ketika kehidupan orang lain menjadi standar
Dalam psikologi sosial, kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain dikenal sebagai social comparison (Festinger, 1954). Media sosial membuat proses ini semakin mudah karena dalam hitungan detik kita dapat melihat pencapaian, penampilan, hubungan, hingga gaya hidup banyak orang. Masalahnya, apa yang kita lihat di media sosial biasanya hanyalah bagian yang dipilih untuk ditampilkan. Kita melihat seseorang mendapat pekerjaan baru, tetapi tidak melihat kegagalan yang dialaminya sebelumnya. Kita melihat hubungan yang terlihat bahagia, tetapi tidak mengetahui konflik di baliknya.
Akhirnya, kita membandingkan kehidupan kita secara keseluruhan dengan potongan kehidupan orang lain. Penelitian Vogel et al. (2014) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berkaitan dengan upward social comparison, yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih unggul. Perbandingan semacam ini dapat berkaitan dengan evaluasi diri dan self-esteem yang lebih rendah.
Apakah media sosial membuat kita kesepian?
Menariknya, semakin banyak koneksi tidak selalu berarti semakin dekat secara emosional. Zhang et al. (2022) menemukan adanya hubungan antara penggunaan situs jejaring sosial dan kesepian. Namun, hubungan tersebut tidak berarti bahwa media sosial secara langsung menyebabkan seseorang menjadi kesepian. Penelitian yang lebih baru bahkan menunjukkan bahwa cara menggunakan media sosial lebih penting daripada sekadar durasi penggunaannya. Penggunaan media sosial yang bermasalah (problematic social media use) memiliki hubungan yang lebih kuat dengan kesepian dibandingkan sekadar lamanya waktu yang dihabiskan di media sosial (Feng et al., 2026).
Jadi, pertanyaannya bukan hanya :
“Berapa lama saya menggunakan media sosial?”
Tetapi juga:
“Apa yang terjadi pada diri saya ketika menggunakannya?”
Media sosial bukan sepenuhnya buruk
Media sosial tetap memiliki manfaat. Kita dapat memperoleh informasi, mempertahankan hubungan, menemukan komunitas, dan mendapatkan dukungan dari orang lain. Karena itu, menganggap media sosial sepenuhnya buruk juga terlalu sederhana. Media sosial dapat memberikan risiko sekaligus manfaat terhadap kesejahteraan psikologis remaja, tergantung pada pola penggunaan, karakteristik individu, dan konteks penggunaannya (Alonzo et al., 2024). Maka, mungkin yang perlu kita ubah bukan selalu media sosialnya, tetapi cara kita menggunakannya.
Sebelum membandingkan diri dengan apa yang kita lihat di layar, ingat satu hal :
Kita sedang membandingkan kehidupan nyata kita dengan kehidupan orang lain yang sudah mereka pilih untuk ditampilkan.
Media sosial memang membuat kita lebih terhubung. Tetapi jika tidak disadari, ia juga bisa membuat kita semakin sering bertanya apakah hidup kita sudah cukup. Dan mungkin, merasa cukup bukan tentang memiliki kehidupan seperti orang lain. Melainkan berhenti menggunakan kehidupan orang lain sebagai ukuran nilai diri sendiri.
Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk terhubung, bukan alasan untuk merasa bahwa diri kita tidak cukup. Jika penggunaan media sosial mulai memengaruhi kepercayaan diri, suasana hati, hubungan sosial, atau keseharianmu, mungkin sudah waktunya untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Waskita Biro Konsultan Psikologi hadir untuk membantu kamu memahami diri, mengelola berbagai tantangan psikologis, dan menemukan langkah yang lebih sehat untuk menjalaninya. Karena membandingkan diri dengan orang lain mungkin mudah, tetapi memahami diri sendiri adalah proses yang jauh lebih berarti.
Artikel Lainnya
Temukan berita dan wawasan menarik lainnya dari Biro Waskita
Salah Jurusan di Tengah Perjalanan Kuliah: Ketika Pilihan Pendidikan Tak Lagi Terasa Sesuai
05 September 2026Diterima di perguruan t...
Spotlight Effect: Mengapa Kita Terlalu Memikirkan Penilaian Orang Lain?
04 September 2026Pernahkah Anda merasa c...
Motivasi Berprestasi Karyawan Bisa Dilatih, Bukan Sekadar Bakat
03 September 2026Dalam dunia kerja yang ...
Trauma Healing: Langkah Memulihkan Luka Batin agar Kembali Menjalani Hidup dengan Lebih Baik
02 September 2026Setiap orang pernah men...