Burnout Syndrome: Wabah Diam di Tempat Kerja Modern dan Solusi Holistik
Burnout Syndrome: Wabah Diam di Tempat Kerja Modern dan Solusi Holistik
Burnout syndrome telah menjadi kendala tersembunyi yang menyebar di korporasi. Menurut WHO yang telah mengklasifikasikannya sebagai fenomena sosial dalam dunia pekerjaan sejak 2019, burnout adalah kondisi stres kronis di tempat kerja yang belum berhasil dikelola. Di Indonesia, survei Kementerian Kesehatan (2023) mengungkapkan bahwa 1 dari 3 pekerja mengalami gejala burnout, dengan angka tertinggi di sektor teknologi, keuangan, dan konsultasi.
Apa Itu Burnout Syndrome?
Burnout bukan sekadar kelelahan biasa. Ini adalah kondisi multidimensi yang dicirikan oleh tiga elemen utama:
- Kelelahan emosional dan fisik yang mendalam
- Meningkatnya jarak mental dari pekerjaan (sinisme)
- Penurunan efikasi profesional
“Burnout adalah proses bertahap di mana seseorang mengalami kelelahan kronis, menjadi sinis terhadap pekerjaan, dan merasa tidak kompeten," jelas Dr. Sari Dewi, psikolog klinis. Burnout selayaknya stres kronis dan menggerogoti motivasi intrinsik seseorang. Hal inilah yang membuat burnout dapat mempengaruhi kinerja seseorang.
Penyebab Utama di Lingkungan Kantor
- Budaya Kerja Hustle Culture, glorifikasi kesibukan dan normalisasi kerja lembur telah menciptakan lingkungan yang khas dengan stigma bekerja berlebihan dianggap sebagai lencana kehormatan. Tanpa sadar, itu malah mengurangi produktivitas dan kesehatan mental pegawai.
- Beban Kerja Tidak Realistis, permintaan yang terus meningkat tanpa sumber daya atau pengakuan yang memadai. Studi Gallup (2023) menemukan bahwa karyawan dengan burnout memiliki 2,6 kali kemungkinan lebih tinggi untuk aktif mencari pekerjaan lain.
- Kurangnya Kontrol dan Otonomi, mikromanajemen dan ketiadaan suara dalam pengambilan keputusan memperparah perasaan ketidakberdayaan.
- Disonansi Nilai, konflik antara nilai-nilai pribadi dan tuntutan organisasi menciptakan tekanan moral yang berkepanjangan.
Dampak pada Pekerja: Lebih dari Sekadar Kelelahan
Dampak Fisik
- Gangguan tidur kronis dan kelelahan konstan
- Sakit kepala, gangguan pencernaan, dan penurunan imunitas
- Risiko penyakit kardiovaskular meningkat 40% menurut penelitian Journal of Occupational Health Psychology
Dampak Psikologis
- Kecemasan dan depresi klinis
- Perasaan tidak berdaya dan sinisme
- Penurunan konsentrasi dan daya ingat
- Pada kasus ekstrem, munculnya pikiran untuk bunuh diri
Dampak Profesional
- Penurunan produktivitas hingga 68%
- Kualitas kerja yang menurun dan kesalahan meningkat
- Hubungan kerja yang tegang dengan kolega
- Potensi kehilangan karir
Strategi Mengatasi Burnout di Tingkat Organisasi
- Transformasi Budaya Perusahaan
- Intervensi Struktural
- Program Dukungan Holistik
- Pembenahan Sistem Komunikasi
Lantas, bagaimana cara terbaik untuk bisa mencegah burnout syndrome pada pekerja? Tentu, selain strategi mengatasi burnout di tingkat organisasi, keterlibatan biro psikologi juga menjadi solusi yang dapat dipilih. WASKITA Biro Konsultasi Psikologi dapat membantu Anda dan perusahaan Anda yang membutuhkan training pada lingkungan perusahaan sehingga tercipta lingkungan perusahaan yang sehat. Hubungi WASKITA Biro Konsultasi Psikologi, konsultasikan kondisi korporasi Anda sekarang.